Al-Battani, Astronom Muslim Yang Menemukan Jumlah Hari Dalam Setahun

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, Minggu itu nama-nama hari. Hayooo pasti kalian bacanya sambil nyanyikan hehe. Lagu tersebut emang udah gak asing lagi di telinga kita ya guys, bisa dibilang kita udah kenal dengan lagu ini dari sejak masih berada di taman kanak-kanak.

Kita tau bahwa lagu itu adalah nama-nama hari, tapi tahu kah kalian dalam setahun ada berapa hari? Yapss 360 hari. Tapi kalian tau gak guys siapa orang pertama yang menemukan jumlah hari dalam setahun?

Nah kalian pasti banyak yang belum tahu kan? Okeyy kali ini mimin akan ngebahas siapa yang menjadi penemu jumlah hari dalam setahun. Daripada penasaran kuyy baca aja kebawah…

Siapa Penemu Jumlah Hari Dalam Setahun?

Mungkin dari berapa abad yang lalu, astronomi dan matematika sangat lekat dengan umat Islam. Tak heran bila sejumlah ilmuwan di kedua bidang tersebut bermunculan. Salah seorang di antaranya adalah Abu Abdallah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Al-Battani. Tapi lebih dikenal dengan sebutan panggilan Al-Battani atau Albatenius.

Al-Battani merupakan salah seorang ahli astronomi dan matematikawan muslim pada abad pertengahan yang cukup berpengaruh. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah Kitab al-Zij, yang pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul De Scientia Stellarum atau De Motu Stellarum.

Ia lah yang menemukan jumlah hari dalam setahun ada berapa dan berkat penemuannya, saat ini kita bisa mengetahui bahwa dalam setahun ada 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik (sumber lain menyebut 365,24 hari). Penemuan Al-Battani ini dianggap akurat, bahkan keakuratan pengamatan yang dilakukan Al-Battani ini membuat seorang matematikawan asal Jerman bernama Christopher Clavius menggunakannya untuk memperbaiki kalender Julian.

Atas izin Paus Gregorius XIII, kalender lama akhirnya diubah menjadi kalender yang baru dan mulai digunakan pada tahun 1582. Kalender inilah yang kemudian banyak digunakan oleh masyarakat hingga saat ini (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006).

Berdasarkan perhitungannya, ia menyatakan bahwa bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Perhitungannya mendekati dengan perhitungan terakhir yang dianggap lebih akurat. Itulah hasil jerih payahnya selama 42 tahun melakukan penelitian yang diawali pada masa mudanya di Raqqa, Suriah.

Al-Battani belajar astronomi dan matematika dari ayahnya, Jabir Ibnu Sin’an. Kemudian melanjutkan studinya untuk memperdalam kedua disiplin ilmu tersebut di kota Rakka, di tepi sungai Efrat. Pada akhir abad sembilan, Al-Battani pindah ke Samarra untuk bekerja hingga meninggal dunia tahun 929 M.

Latar Belakang Al-Battani

Al-Battani lahir sekitar tahun 858, di Harran. Ia adalah anak dari ilmuwan astronomi, Jabir Ibn San’an Al-Battani. Keluarga Al-Battani merupakan penganut sekte Sabian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, Al-Battani tidak mengikuti jejak nenek moyangnya. Ia memilih memeluk agama Islam.

Secara informal, Al-Battani dididik ayahnya yang juga seorang ilmuwan. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikannya pada bidang keilmuan yang digeluti ayahnya. Ketertarikan pada benda-benda yang ada di langit membuat Al-Battani kemudian menekuni bidang astronomi tersebut.

Kemudian, Al-Battani kecil mengikuti keluarganya pindah ke Raqqah. Di tempat baru ini ia mulai menekuni bidang astronomi, mulai dari melakukan beragam penelitian hingga menemukan berbagai penemuan cemerlang. Sayang, tidak ada data spesifik mengenai pendidikan formal Al-Battani. Misalnya, tidak ada data yang menyebutkan di mana Al-Battani belajar sains (Frank N. Magill (ed), The Middle Ages: Dictionary of World Biography, Volume 2, 1998).

Dalam literatur hanya disebutkan bahwa semasa mudanya Al-Battani belajar di Raqqah. Di tempat barunya itu, ia tekun mempelajari teks-teks kuno, khususnya karya Ptolomeus yang kemudian menuntunnya untuk terus mempelajari astronomi. Bidang keilmuan yang ditekuninya itu kelak membuatnya menjadi terkenal tidak hanya di kalangan umat Muslim, melainkan juga di dunia Barat.

Al-Battani terpesona dengan teori kosmologi geosentris yang berkembang pertama kali di Yunani. Meskipun Al-Battani adalah pengikut teori kosmologi geosentris Ptolomeus, tapi ia juga mempelajari teori kosmologi heliosentris yang dikembangkan oleh Nicolaus Copernicus. Dua teori kosmologi itulah yang mendorong pencapaian Al-Battani dan turut mempelopori revolusi sains di abad ke-16 dan 17.

Seperti Astronom Arab lainnya, Al-Battani mengikuti tulisan-tulisan Ptolomeus dan mengabdikan dirinya untuk mengembangkan karya Ptolomeus, The Almagest. Saat mempelajari The Almagestinilah Al-Battani menemukan penemuan besar, yaitu titik Aphelium. Titik Aphelium adalah titik terjauh bumi saat mengitari matahari setiap tahunnya.

Ia menemukan bahwa posisi diameter semu matahari tidak lagi berada pada posisi yang dikemukakan oleh Ptolomeus. Penemuan ini sangat berbeda dengan teori yang disampaikan oleh Ptolomeus dan astronom Yunani sebelumnya. Namun, baik Al-Battani maupun astronom penganut Ptolomeus lainnya tidak dapat mengemukakan penjelasan di balik perbedaan tersebut.

Joseph A. Angelo menyebut bahwa Al-Battani memperbaiki tatanan tata surya, lunar dan mengembangkan teori Ptolomeus dalam buku The Almagest menjadi lebih akurat.

Pengamatan akurat Al-Battani ini juga memungkinkan ia memperbaiki pengukuran Ptolomeus tentang kemiringan sumbu. Ia juga melakukan pengamatan lebih akurat mengenai ekuinoks (saat matahari tepat melewati garis ekuator bumi) pada awal musim gugur. Melalui pengamatan inilah Al-Battani mampu menemukan bahwa dalam setahun ada 365,24 hari (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006).

Wafatnya Al-Battani

Al-Battani yang lahir dan besar saat ilmu pengetahuan berkembang pesat, membuatnya cukup leluasa untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang disenanginya. Ia membaca manuskrip-manuskrip ilmu pengetahuan, khususnya karya Ptolomeus yang kemudian menuntunnya untuk terus mempelajari astronomi.

Ia meninggal pada tahun 929 di Qar al-Jiss (sekarang di Irak modern) dalam perjalanan pulang dari Bagdad. Berabad-abad setelah kematian Al-Battani, ringkasan pemikirannya yang terangkum dalam Kitab al-Zij masih digunakan sebagai pedoman pada zaman Renaisance dan memberikan banyak pengaruh terhadap astronom dan astrolog Barat. (Joseph A. Angelo, JR, Encyclopedia of Space and Astronomy, 2006).

Bahkan dirinya dianggap sebagai astronom terbaik dan terkenal dari peradaban Islam pada abad pertengahan. Salah satu karyanya yang paling populer yakni Kitab al-Zij, kemudian pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robertus Retinensis. Pada abad ke-13, Raja Alfonso dari Spanyol kembali menterjemahkan Kitab al Zij tersebut.

Kitab al Zij, yang lebih dikenal sebagai De Scientia Stellarum atau De Motu Stellarum, kemudian diteliti oleh sarjana orientalis Italia bernama C. A. Nallino yang mengedit dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin.