Abbas Ibn Firnas, Ilmuan Muslim Pertama Yang Dapat Terbang

Mungkin selama ini kita telah mengetahui bahwa Orville dan Wilbur Wright bersaudara telah berhasil dalam menerbangkan sebuah pesawat pada tahun 1903. Namun tahukah kamu bahwa sebenarnya jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara menerbangkan pesawatnya ternyata seorang ilmuan muslim telah lebih dulu mengembangkan prinsip-prisip penerbangan.

Terbang setidaknya sudah jadi mimpi semua manusia sejak zaman Yunani Kuno. Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang Ikarus putra Daedalus yang berhasil lepas landas dengan sayap rakitan sederhana (berbahan bulu dan lilin) tetapi akhirnya nyungsep ke laut karena ia terbang terlalu dekat dengan matahari sehingga lilin sayapnya mencair.

Lama setelah peradaban Yunani sepi, impian untuk bisa terbang itu tak akan pernah pudar. Orang yang telah berupaya mewujudkannya adalah Abbas Ibnu Firnas. Ia hidup pada abad ke-9 enam ratus tahun lebih dulu ketimbang Leonardo Da Vinci hidup di abad ke 15.

Abbas bin Firnas

Nama lengkap beliau adalah Abbas Qasim bin Firnas. Ia terlahir di Izn-Rand Onda, Andalusia pada tahun 810 M dan menjalani masa kehidupannya di Cordoba. Abbas tumbuh sebagai penyair sekaligus ahli matematika, fisika, kimia, dan teknik. Ilmuwan penemu serba bisa ini meninggal di tahun 887 M/274 H di umur yang ke 80 tahun, tepatnya sekitar 12 tahun setelah ia melakukan uji coba terbang keduanya.

Cedera yang dialaminya saat melakukan uji coba penerbangan itu membuat kondisi kesehatannya semakin memburuk. Sejarawan Barat, Philip K Hitti yang merupakan penulis buku History of The Arabs, menempatkan Ibnu Firnas sebagai salah satu tokoh besar dan manusia pertama dalam sejarah yang melakukan uji coba dalam bidang penerbangan.

Abbas juga pernah membuat jam air yang dinamai Al-Maqata dan kaca dari batu pasir. Tak hanya itu Ia juga membuat kompilasi tabel gerak planet. Ia begitu kreatif dan serbabisa. Abbas punya reputasi sebagai seorang yang eksentrik dengan bermacam minat dan penemuan.” Dalam kiprahnya yang luas di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, Abbas punya satu sumbangan cemerlang yang diakui secara luas, termasuk oleh dunia Barat.

Uji Coba Penerbangannya

Ia melakukan uji coba terbang pertamanya “Pada tahun 852, ia melompat dari menara masjid dengan sebuah jubah yang besar dan beberapa orang menganggapnya sebagai parasut pertama, percobaan gila yang dilakukannya itu membuat Abbas bonyok di seluruh tuhnya, tetapi untungnya nyawanya masih selamat.

Namun sebagai seorang ilmuan Abbas tidak pernah puas. Kemudian ia membuat sebuah “mesin” terbang yang terbilang sederhana, hanya berupa sebuah sayap dengan berangkakan kayu. Sebuah glider, Alat itu ia ciptakan berdasarkan pengamatannya terhadap burung-burung yang terbang.

“Pada tahun 875, ketika berumur 65 tahun, Abbas lepas landas dari sebuah bukit kecil dekat Kordoba dengan mengendalikan secara sederhana glider bersayap yang melayang beberapa ratus meter sebelum berbalik ke tempat peluncurannya untuk mendarat, di mana kemudian ia terjungkal.

Abbas sadar bahwa ia telah melupakan satu urusan penting: burung terbang tak hanya menggunakan sayap, tetapi juga ekor. Maka, ia melengkapi glidernya dengan ekor. Rupanya, penambahan itulah yang dapat memudahkan Abbas mengendalikan glider sekaligus melakukan pendaratan. Ia juga memperbaiki bentuk parasutnya sehingga alat itu mengurangi kecepatan jatuh pemakainya secara signifikan.

Menjadi Inspirasi Ahli Penerbangan Yang Lain

Kisah Abbas yang mencoba terbang itu direkam sejarah, lalu menyebar jauh ke masa-masa berikutnya, termasuk Eropa abad pertengahan.

Besar kemungkinan, Abbas menginspirasi ahli penerbangan Inggris pada abad ke-11, Eilmer of Malmmesbury. Demikianlah ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, setiap temuan mengandung temuan-temuan sebelumnya, baik yang berhasil maupun yang gagal.

Beberapa abad setelah Da Vinci, pada permulaan abad ke-20, Wright bersaudara berhasil menerbangkan sebuah pesawat mereka yang lebih sempurna dari pada mesin-mesin terbang era sebelumnya. Parasut juga menjadi semakin canggih.

Pada Perang Dunia II di Eropa, parasut-parasut yang pada mulanya cuma satu pikiran gila dalam kepala Abbas Ibnu Firnas kini telah mengantarkan pasukan penerjun ke garis belakang pertahanan lawan. Baik pihak Sekutu maupun Poros memanfaatkannya. Sedangkan glider pada masa itu bahkan telah sanggup mengantar orang menyebrangi lautan, dari Inggris sampai ke daratan Eropa.

Jasa dan Peninggalan Ibnu Firnas

  • Pertama: al-Miqat. Abbas bin Firnas membuat sebuah alat untuk mengetahui waktu semacam jam.
  • Kedua: al-Munaqalah. Yaitu sebuah alat hitung atau kalkulator di zaman itu.
  • Ketiga: Dzatul Halqi. Adalah astrolabe, yakni sebuah komputer astronomi yang sangat kuno untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan waktu, posisi matahari dan bintang-bintang di langit.
  • Keempat: al-Qubah as-Samawiyah (planetarium). Planetarium adalah sebuah teater yang dibangun untuk menyajikan pertunjukan edukatif sekaligus hiburan tentang astronomi dan langit malam. Atau untuk pelatihan navigasi langit
  • Kelima: Membuat kaca dari batu dan pasir. Sejarawan sepakat bahwa Abbas bin Firnas adalah orang pertama di Andalusia yang mencetuskan ide industri kaca dari batu dan pasir. Dan Andalusia adalah wilayah termaju di Eropa saat itu.

Namanya kini telah diabadikan sebagai nama bandara di kota Baqdad, Iraq: Ibn Firnas Airport. Di sana, ada patung dirinya yang mengenakan sayap. Ia juga diabadikan sebagai nama kawah di bulan oleh lembaga antariksa Amerika, National Aeronautics and Space Administration (NASA), dengan nama Armen Firman.

Itulah penjelasan mengenai ilmuan yang telah menjadi pionir penerbangan pertama dan bisa dibilang berkat dialah kita bisa duduk dipesawat dengan nyaman.