Menguak Kisah Tradis Dibalik Beladiri Sumo

Sumo dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu jenis beladiri yang paling unik dan menarik. Sumo adalah sebuah pertandingan dua laki-laki besar yang berada di batas cincin yang melingkar (dohyō). Pria yang dapat mendorong lawannya hingga keluar dari lingkaran adalah pemenang. Seorang pegulat Sumo juga dapat menang dengan membuat sentuhan kepada lawannya dari bagian tubuh lainnya, kecuali pantat dan kaki.

Jepang adalah negara yang menciptakan beladiri tersebut. Jepang juga merupakan satu-satunya negara yang mendukung beladiri ini. Sumo mencakup banyak unsur-unsur dari ritualnya, termasuk penggunaan garam untuk pemurnian. Ini dilakukan ketika Sumo diperkenalkan sebagai bagian dari agama Shinto Jepang.

Jenis-jenis Sumo

  1. Makuuchi, jenis ini mencakup empat puluh dua pegulat
  2. Juryo, jenis ini mencakup dua puluh delapan pegulat
  3. Makushita, jenis ini mencakup seratus dua puluh anggota
  4. Sandanme, jenis ini memiliki dua ratus pegulat
  5. Jonidan, jenis ini mencakup dua ratus sampai tiga ratus pegulat
  6. Jonokuchi, jenis ini memiliki 80 pegulat

Walaupun berbadan ‘gemuk’, jangan berpikir bahwa seorang pegulat Sumo adalah orang yang kerjanya bermalas-malasan. Mereka menjalani latihan yang sangat keras setiap hari. Seorang rikishi menjalani kehidupan sehari-hari di sebuah tempat yang disebut Sumobeya. Mereka makan, tidur dan berlatih di tempat tersebut sepanjang mereka menjadi Sumo. Hampir sama dengan seni beladiri yang lain, hirarki sangat dipegang teguh dalam Sumo. Di dalam Sumobeya, pegulat paling junior adalah yang paling menderita. Mereka harus bangun paling awal, mencuci pakaian serta memasak untuk para seniornya, mereka juga harus mandi paling akhir dan baru bisa diperbolehkan makan.

Para junior juga seringkali dibully oleh para seniornya dengan alasan untuk memperkuat fisik dan mental. Pembullyan tersebut pun sering menyebabkan cedera bahkan kematian. Dampak negatif cara hidup yang seperti ini muncul belakangan. Usia hidup rata-rata adalah 60-65 tahun, 10 tahun lebih rendah dari usia hidup laki-laki Jepang pada umumnya.

Setiap pegulat sumo juga diwajibkan menggunakan pakaian tradisional. Dengan alasan kedisiplinan, pegulat sumo bahkan tidak diperbolehkan memilih pakaiannya sendiri. Seorang pegulat Sumo diwajibkan untuk memanjangkan rambut mereka agar bisa diikat membentuk seperti ciri khas dari Samurai. Mereka diharuskan untuk selalu memakai pakaian tradisional Jepang dan gaya rambut ini di muka umum. Karena gaya yang khas ini.

Sumo memang olahraga khas Jepang, namun tidak hanya orang jepang saja yang boleh mengikuti Sumo, orang asing pun juga diperbolehkan untuk ikut dalam pertandingan Sumo. Orang asing tersebut disebut Gaijin. Mereka diperbolehkan ikut, akan tetapi ada syaratnya yaitu diharuskan lancar berbahasa Jepang serta harus mengerti udaya dan tradisi Jepang. Pertandingan Sumo tidak akan dimulai sebelum kedua pegulat meletakkan kedua tangannya di tanah secara bersamaan. Hal ini sering dimanfaatkan oleh para pegulat untuk merusak konsentrasi lawannya dengan cara berpura-pura hendak meletakkan tangannya sebelum berdiri kembali.

Pertandingan Sumo biasanya hanya berlangsung beberapa detik saja. Pertandingan dianggap berakhir bila salah satu pegulat terlempar keluar dari dohyo atau salah satu anggota badannya menyentuh tanah. Anehnya, pertandingan ini bisa juga berakhir bila salah seorang pegulat mengalami cacat dipakaiannya. Bagi mereka yang mengalami cacat pakaian akan disuruh untuk telanjang di depan banyak orang. Ngeri banget bukan?

Nah, itulah informasi yang dapat kami berikan. Semoga bermanfaat.