Yuk, Baca Kisah Pengusaha Tempe Yang Sukses Di Jepang

Jika kalian orang Indonesia, pasti bohong banget kalau gak kenal dengan makanan yang satu ini. Tempe, yaps siapa yang gak kenal dengan jenis makanan yang satu ini. Makanan ini adalah jenis makanan yang tebuat dari bahan dasar kacang kedelai dan sudah menjadi ciri khas warga Indonesia.

Mungkin bagi sebagian orang, makanan satu ini adalah makanan kelas bawah karena harganya yang sangat murah dan sering menjadi makanan andalan orang miskin. Tapi kalian jangan pernah menyepelekan makanan ini. Mungkin saja kalau kita melihat nasib mereka para pengusaha tempe di Indonesia apalagi yang di desa-desa, kehidupan pengusaha tempe hanyalah orang-orang biasa dan sederhana. Tidak ada kemewahan yang menojol dari pengusaha tempe yang ada di Indonesia.

Namun dengan adanya kisah ini tentunya sangat berbeda karena saya akan memberikan kisah sukses seorang pengusaha tempe asal Indonesia yang sukses menerbangkan usaha tempe miliknya di negara Jepang dan tak hanya itu saja, kini tempe yang dibuatnya sudah mencapai negara-negara besar di Eropa.

Makanan rakyat khas Indonesia ini ternyata sudah menembus pasar dunia. Cita rasanya yang sederhana membuat warga dunia jatuh cinta. Pencinta tempe di luar negeri bahkan menjulukinya sebagai ”magic food”, makanan ajaib!

Ditangan dingin Ana kini tempe bukanlah jenis makanan yang ndeso lagi. Pertalian Ana dengan tempe berawal ketika ia kuliah satu tahun di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia sangat menyukai makanan yang terbuat dari kedelai ini. Begitu pulang ke Perancis pada 2011, Ana sering merindukan rasa tempe. Beruntung, ia memiliki sahabat dekat, Rustono, yang memproduksi tempe di Jepang dan bersedia mengiriminya tempe dari Jepang ke Perancis. Dari Rustono pula Ana belajar memproduksi tempe.

Sebenarnya, menurut Ana, bisnis apa pun tidak bisa menjadi pekerjaan yang menyenangkan jika tidak ada tujuan yang lebih besar, jika tidak ada dampak sosial yang lebih luas. Tempe mewujudkan kesederhanaan dan nilai berbagi tersebut. ”Rasanya sederhana, gizinya sehat, dan pembuatannya tidak rumit,” ujarnya. Tak ingin menunda berbisnis tempe, Ana segera memproduksi tempe sembari melanjutkan kuliah S-2 di Swiss.

”Saya memproduksi mulai dari nol. Berkali-kali gagal, busuk setiap kali, tetapi saya tidak menyesal. Saya mendekati diaspora warga Indonesia di Swiss. Setelah beberapa bulan, saya memperoleh pelanggan,” tambahnya.

Tak hanya ke komunitas warga Indonesia, promosi tempe juga gencar menyasar mahasiswa di Swiss. Dari awalnya belum pernah mencicipi tempe, banyak mahasiswa yang kemudian kecanduan tempe. Sadar bahwa permintaan tempe yang sangat tinggi, Ana semakin optimistis bahwa tempe bisa diterima oleh lidah Eropa.

Memang perlu banyak waktu bagi dirinya untuk memperkenalkan tempe di kalangan orang Eropa, karena dirinya sendiripun belum tahu betul tentang tempe dan harus dididik dulu. Dengan strategi marketing yang tepat, tempe bisa menjadi sangat terkenal, apalagi produk vegetarian semakin dihargai di sana,” kata Ana.

Rustono, Pengusaha Tempe yang Sukses di Jepang

Dengan bantuan teknologi komunikasi Skype, guru produksi tempe Ana, Rustono, segera memamerkan ruang produksi dan ruang penyimpanan tempe miliknya di Jepang. Di ruang penyimpanan itu, ia menyimpan stok tempe beku yang masa simpannya mencapai satu tahun. Tempe produksinya telah didistribusikan ke seluruh Jepang dengan harga 350 yen atau Rp 40.000 per 250 gram.

Tak hanya di Jepang saja, kini tempe yang dilabeli dari merek Rusto’s tempe itu juga sudah menembus pasar dunia seperti Meksiko, Korea, Brasil, Polandia dan Hongaria. Tempe buatannya juga dipakai dalam menu penerbangan maskapai Garuda Indonesia rute Osaka-Denpasar. Pertama kali memulai bisnis tempe di Jepang, Rustono memandangi gambar peta Jepang yang terpajang di ruang produksi tempe. Sambil melihat peta, ia memperbesar imajinasi ingin memasarkan tempe ke seluruh Jepang.

Pertama kali ia memproduksi tempe buatannya, akan tetapi tidak laku dijual. Ia juga sempat empat bulan gagal memproduksi tempe karena perbedaan suhu dan kelembaban udara. Pada 1998, Rustono membuat tempe pertamanya di dapur rumahnya di Otsu, Shiga. ”Imajinasi harus lebih besar dari masalah. Orang Jepang awalnya tidak yakin dengan wajah asing saya. Please, ini impian saya. Saya pertaruhkan seluruh hidup saya untuk ini,” ujarnya.

Pada saat ia memulai membuat tempe, ia belajar dengan lebih dari 60 perajin tempe tradisional di Indonesia. Lalu ia memasukan teknologi, agar dapat mempertahankan suhu ruangan produksi di atas 30 derajat celsius sehingga produksi tempe tetap bisa berjalan meski musim salju. Hingga kini, Rustono memproduksi tempe dengan ragi dari Indonesia dan memakai air langsung dari mata air di daerah Kyoto.

Begitu mengantongi izin produksi, ia pun mulai menawarkan kebeberapa hotel dan restoran. Akan tetapi jalan yang ditempuhnya tidak lah mulus. Dalam satu hari ia mencoba untuk menawarkan tempe ke lima tempat dan lima kali pula menerima penolakan. Namun keesokan harinya Rustono mendatangi 10 hingga 20 lokasi.

Kala itu tempe masih menjadi makanan asing, pemilik restoran atau hotel biasanya akan menyilangkan tangan yang berarti ”tidak, tidak”. Meski menolak, Rustono nekat meninggalkan contoh produk tempenya.

Titik cerah produksi tempe mulai tampak setelah Rustono diwawancarai seorang wartawan Jepang. Wartawan itu tertarik ketika melihat Rustono bersemangat membangun impian dengan memperbaiki pabrik tempe pada saat salju turun. Begitu artikel dimuat satu halaman penuh, sehari kemudian, seorang pemilik restoran yang sempat menolak tempe Rustono segera memesan dan menjadi pelanggan pertama.

Tempe is Magic Food

Rustono menjual tempe buatannya dalam kondisi mentah dan membebaskan para pelanggannya berkreasi dengan tempe. Para koki restoran dan hotel mengolah tempe menjadi lebih dari 60 menu tempe yang berbeda, seperti teriyaki tempe, sandwich tempe, tempe rumput laut, ataupun dicampur dengan salad.

Bahkan di Australia, ada seorang warga lokal yang bernama Amita Buissink, yang jatuh cinta kepada tempe. Ia bahkan memproklamasikan diri sebagai duta tempe. Tak hanya memproduksi tempe di Margaret River Tempe, Australia Barat, tetapi Amita juga menularkan ilmu fermentasi tempe kepada anak-anak sekolah. Ia pun sering diundang menjadi pembicara tempe seperti yang dilakukannya di Bogor, Jawa Barat, beberapa pekan lalu.

Setelah melalui tujuh tahun memproduksi tempe, rasa tempe buatan Amita sama persis seperti tempe tradisional produksi perajin Indonesia. Namun, Amita membuat inovasi baru dengan keragaman tempe nonkedelai. Ia, antara lain, membuat tempe dari beras merah, biji bunga matahari, kacang hijau, dan kacang hitam. Kedelai yang dipakai pun hanya kedelai organik.

Harga jual tempe di Australia delapan kali lipat dari pada di Indonesia. Bahan baku kedelai organik cukup melimpah, tetapi Amita harus mengimpor ragi dari Indonesia. Setiap dua hari sekali Amita memproduksi 50 kilogram tempe.
Banyaknya peminat warga asing yang ingin belajar memproduksi tempe, bisa kita lihat di Rumah Tempe Indonesia di Bogor. September mendatang, misalnya, ada 10 orang asal Vietnam yang menimba ilmu membuat tempe di Rumah Tempe. Mereka belajar membuat tempe dengan cara higienis dengan teknologi modern.

Saat ini tempe sudah naik kelas dan kita sebagai negara asal tempe tersebut, sebaiknya patut bangga dan terus melestarikan makanan yang kaya akan kandungan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Kandungan antibiotika dan antioksidan di dalamnya dapat menyembuhkan infeksi serta mencegah penyakit degeneratif.

Nah jadi kalian gak perlu malu jika negara kita dijulukin sebagai negara tempe, karena memang tempe tercipta dari negara kita. So! salam tempe ?