Inilah Tokoh Dibalik Kepopuleran Tradisi Halal Bihalal

Bentar lagi ramadhan akan berakhir dan kita akan menyambut hari raya idul fitri, ketika menyambut lebaran kita selalu bersentuhan dengan kegiatan Halal Bihalal. Tradisi Halal Bihalal selalu bisa dilakukan dimana-mana, baik di kampung halaman, di sekolah maupun dikantor. Akan tetapi bagi kita umat muslim Indonesia sepatutnya berbangga karena tradisi ini cuma ada di Indonesia saja lho!

Bahkan negara Islam sekalipun tidak menjalankan kegiatan ini, kenapa bisa begitu? Yapss hal ini dikarenakan Halal Bihalal bukanlah syariat Islam. Akan tetapi merupakan lokal wisdom, tradisi sosial khas Indonesia yang ternyata sudah ratusan tahun dipraktikkan oleh leluhur kita, walau tidak secara langsung bernama Halal Bihalal.

Nah kira-kira siapa ya pencetus tradisi ini? Penasaran? Baiklah mimin bakal ngejelasin di artikel ini:

Pengertian Halal Bihalal

M. Qurasih dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Qur an memberikan penjelasan mengenai pengertian dan makna yang terkadung dalam Halalbihalal. Menurutnya halalbihalal mengandung 2 arti.

Dari tinjauan kebahasaan. Kata halalbihalal berasal dari kata halla atau halal yang bisa berarti menyelesaikan persoalan atau problem, meluruskan benang kusut, mencairkan air yang keruh dan melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan demikian dengan adanya acara halalbihalal diharapkan hubungan yang selama ini keruh dan kusut dapat segera diurai dan dijernihkan. Halalbihalal bermakna untuk merekontruksi relasi kemanusiaan yang lebih sejuk dan menentramkan.

Tinjauan hukum. Kata halal digunakan sebagai lawan dari kata haram dan makruh. Dengan pengertian ini maka halalbihalal mengandung arti kekinian setiap orang yang berhalalbihalal untuk membebaskan diri dari perbuatan yang haram dan makruh, atau membebaskan diri dari perbuatan dosa.

Mereka lah yang menjadi Pencetus Halalbihalal:

Raden Mas Said

Raden Mas Said adalah perintis Halal Bihalal secara praktik. Pada masa Mataram-Kartasura (Solo), di tengah peperangan melawan Belanda, juga perseteruan di kubu keraton Jawa, Raden Mas Said yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, era 1757 -1795 ini, mengadakan sebuah pertemuan besar-besaran di balai istana keraton Surakarta tatkala hari raya Idul Fitri.

Raden Mas Said mengundang para punggawa, prajurit dan pengikutnya untuk datang ke balai istana setelah melaksanakan shalat Ied. Di sana mereka saling bersalaman, sungkeman kepada orang-orang tua, dan meminta restu kepada raja. Kegiatan serupa kemudian diikuti oleh pemimpin Jawa lainnya sebagai tradisi yang dikenal dengan istilah sungkeman, belum bernama Halal Bihalal.

Sejarah mencatat, bahwa Bung Karno sempat menghadiri tradisi sungkeman ini pada Idul Fitri tahun 1930 di keraton. Di mana polisi Belanda sempat ingin menangkap Bung Karno, karena curiga akan ada aktivitas pemberontakan.

KH Abdul Wahab Hasbullah

Tak hanya Raden Mas Said saja yang menjadi pelopor halal bihalal, ternyata dikutip dari nu.or.id, salah satu perintis organisasi Nahdahtul Ulama (NU) yang biasa dipanggil dengan Kiai Wahab ini juga merupakan penggagas istilah Halal Bihalal. Bermula pada tahun 1948 ketika Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, pemberontakan terjadi dimana-mana.

Pada pertengahan bulan ramadan, Bung Karno mengundang Kiai Wahab ke Istana Negara untuk diminta pendapat mengenai solusi konflik politik Indonesia pada masa itu.

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahmi antar pemimpin politik, berhubung Hari Raya Idul Fitri akan tiba. Bung Karno meminta istilah lain dari silaturahmi dan Kiai Wahab pun memberi istilah Halal Bihalal beserta penjelasan makna filosofinya, terkait permusuhan antar tokoh politik yang menurutnya adalah haram, maka harus dihalalkan atau disudahkan.

Dr Ir H Soekarno

Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini tercatat sebagai pelopor aktivitas halal bihalal sebagai tradisi nasional, pasca kemerdekaan Indonesia. Seperti dikutip dari suaramerdeka.com, pada hari raya Idul Fitri tahun 1948, Bung karno mengundang para tokoh politik Indonesia untuk bersilaturahmi ke istana negara.

Tercatat sejarah, bahwa undangan tersebut dinamakan dengan judul “Halal Bihalal”, di mana istilah tersebut Bung Karno dapat dari hasil dialognya dengan Kiai Wahab. Aktivitas serupa pun kemudian menjadi tradisi rutin di istana negara.

Prof DR H Abdul Malik Karim Amrullah

Tokoh pemikir Islam yang juga beraktivitas sebagai penulis ini dikenal akrab dengan nama Buya Hamka. Sejumlah catatan menyatakan bahwa Buya Hamka merupakan tokoh yang cukup memiliki pengaruh dalam mempopulerkan tradisi Halal Bihalal kepada khalayak.

Dikutip dari republika.co.id, pertemuannya dengan Presiden Soekarno yang notaben memiliki perbedaan pandangan politik dengannya, di istana Negara tahun 1963 dalam suasana Idul Fitri, berhasil menyedot perhatian khalayak.

Sejarah mencatat, pada saat itu keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan “kita halal bihalal”. Oleh karena itu, Halal Bihalal pun semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Dan berkat merekalah saat ini kita mengenal dan menjalankan yang namanya Halal Bihalal.