Selain Hari Kemerdekaan, Beberapa Hal Ini Juga Terjadi Pada Tanggal 17 Agustus

Semua orang di Indonesia pasti tahu bahwa tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia, dimana seluruh rakyat Indonesia akan memperingatinya. Persis 72 Tahun yang lalu Indonesia telah memploklamirkan kemerdekaannya. Indonesia merdeka setelah 350 tahun di jajah oleh Belanda dan di jajah oleh Jepang 3,5 tahun.

Sehingga kini setiap tanggal 17 Agustus menjadi tanggal yang sangat bersejarah dan selalu diperingati setiap tahunnya. Namun ternyata tanggal 17 Agustus bukan hanya menjadi hari kemerdekaan saja lho, berikut ini adalah beberapa hal yang terjadi di tanggal 17 Agustus:

Hari Wafatnya WR. Soepratman

Wage Rudolf Soepratman adalah seorang pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia yang sampai saat ini masih sering kita dengar. Beliau lahir tanggal 9 Maret 1903, Jatinegara, Jakarta pada usia yang masih sangat muda yaitu 35 tahun. Pencipta lagu Indonesia Raya ini meninggal pada 17 Agustus 1938, sebelum kemerdekaan di kumandangkan.

Namun harapan beliau agar Indonesia merdeka terwujud sama persis di tanggal wafat beliau, yakni 17 Agustus 1945. Tentu hal ini merupakan suatu kebetulan yang tak terjangkau oleh bayangan manusia. Kepergian WR Soepratman diberitakan oleh koran-koran di dalam negeri maupun di Belanda. Salah satunya dari koran ‘Indische Courant’ yang menulis In zijn woning te Tambaksari alhier is gisternacht W. R. Soepratman overleden. De overledene was de componist van het veelbesproken lied der inheemsche nationalisten: „Indonesia Raja.” De begrafenis zal hedenmiddag op de inlandsche begraafplaats Kapassan plaatshebben. (Di kediaman Jalan Tambaksari semalam W.R. Soepratman meninggal dunia.

Almarhum adalah pengarang dari lagu para nasionalis ‘Indonesia Raya’ yang banyak dibicarakan orang. Pemakaman akan dilaksanakan tengah hari ini di pekuburan Kapasan). Lagu Indonesia Raya di ciptakan oleh WR. Soepratman di tahun 1924 pada saat dirinya berusia 21 tahun. Semula lagu ini dilarang oleh penguasa Belanda, namun sesaat sebelum invasi Jepang, larangan ini dicabut. Kini lagu ini praktis adalah lagu kebangsaan yang dinyanyikan pada setiap upacara berbarengan dengan lagu kebangsaan belanda ‘Wilhelmus’).

Bahkan setelah 17 Agustus 1945, lirik lagu ‘Indonesia Raya’ ini masih berbunyi Indonesia Raya, moelia, moelia. Tanahkoe, negerikoe jang koetjinta. Baru pada tahun 1948, Gubernur Jenderal pada masa itu memberikan ‘restu’ keinginan untuk mengganti kata ‘moelia’ ini dengan ‘merdeka’, sehingga sekarang yang kita kumandangkan adalah ‘Indonesia Raya, merdeka, merdeka. Tanahku negeriku yang kucinta’.

Wafatnya Pencetus Ilmu Bahasa Indonesia

Herman Neubronner Van Der Tuuk atau Van Der Tuuk (VdT) adalah peletak dasar linguistika modern beberapa bahasa yang dituturkan di Nusantara, seperti bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuno), dan Bali. Dalam buku ”Mirror of the Indies”, Rob Nieuwehuys mengutip komentar seorang pendeta Bali (pedanda) yang sangat berpengaruh ketika itu, “Hanya ada satu orang di seluruh penjuru Bali yang tahu dan paham bahasa Bali, orang itu adalah Tuan Dertik (Mr. Van der Tuuk).

Van Der Tuuk merupakan anak sulung dari Sefridus van deer Tuuk yang berasal dari Friesland Belanda Utara. Seorang pencetus ilmu bahasa Indonesia. Beliau lahir pada 23 Februari 1824 di Malaka  dan kemudian wafat pada 17 Agustus 1894 pada umur 69 tahun. Tanggal wafat beliau juga sama dengan tanggal kemerdekaan di Indonesia.

Tak lama setelah Malaka menjadi Wilayah Inggris, van deer Tuuk dan keluargapun langsung pindah ke Surabaya pada tahun 1826. Van Der Tuuk disekolahkan di Belanda pada tahun 1840 pada umur 16 tahun , ia mulai kuliah hukum dan sastra di Universitas Groningen. Tetapi dia tidak menyelesaikan studi hukumnya, sesudah tahun 1843 VdT hampir-hampir tidak mengikuti kuliah hukum lagi, tetapi dia lebih sibuk dan tertarik dengan studi bahasa Arab, Persia, Portugis dan Inggris.

Herman Neubronner van der Tuuk, laki-laki yang wafat di usia 69 tahun ini, dikenal juga sebagai Tuan Dertik, orang yang kontroversial, namun sekaligus dicintai. Van der Tuuk turut  ikut juga menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dan Ia termasuk orang menentang dalam cara berpakaian Belanda, penentang segala hal tabu dalam berbahasa, moralitas, masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Peresmian Tugu Mona

Monumen nasional yang terletak di Jakarta ini memang sering disebut sebagai ciri dari kota Jakarta. Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas. Monas merupaka tugu yang memiliki tinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Tugu yang di mahkotai oleh lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala ini di resmikan oleh Soekarno pada tanggal yang sama dengan kemerdekaan Indonesia, hanya saja tahunnya yang berbeda., jika merdeka di tahun 1994 namun monas diresmikan pada tahun 1961.

Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Tayangan Perdana TVRI

TVRI merupakan stasiun tv pertama yang ada di Indonesia yang bisa kita nikmati secara gratis, stasiun tv ini juga merupakan televisi nasional milik negara. Dan tayangan perdana dari stasiun tv jadul ini pada tanggal 17 Agustus 1963. Awal mula kemunculannya, TVRI menayangkan siaran perdanannya dengan menampilkan tayangan upacara yang menampilkan penayangan upacara kemerdekaan republik Indonesia.

Ternyata 17 Agustus nggak cuma hari peringatan kemerdekaan saja lho guys! Ternyata beberapa peristiwa diatas ternyata juga terjadi pada tanggal 17 Agustus, hanya saja tahunnya yang berbeda. So, sekarang sudah tambah ilmu dong!