Mengapa Perjalanan Pulang Itu Lebih Cepat? Ini Jawaban Ilmiahnya

Buat kamu yang hobi jalan-jalan jauh ataupun saat mendatangi tempat yang baru pertama kali kamu kunjungi. Pastinya sering sekali muncul perasaan mengapa lebih cepat jalan pulang ketimbang pada saat pergi yaa? Tenang, perasaan seperti itu nggak cuma kamu doang kok yang ngerasai, bisa dibilang hal itu terjadi pada semua orang lho dan memang merupakan fenomena psikologis. Nah, untuk lebih jelas tentang kejadian ini, simak deh penjelasan ilmiahnya berikut ini.

Dalam sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh PLoS ONE, gagasan tentang efek ini muncul dan para peneliti sepakat untuk menyebutnya sebagai fenomena ‘Return Trip Effect’. Faktanya, walau terasa lebih cepat perjalanan pulang sebenarnya tidak benar-benar lebih cepat dari pada perjalanan pergi. Itu semua hanya persepsi yang muncul di otak kita.

Sensasi ini memang kerap dialami kita yang melakukan perjalanan pulang pergi dari dan ke tempat yang sama. Umumnya dialami ketika kita pergi ke tempat yang belum familiar atau asing. Sebenarnya belum ada teori pasti yang bisa menjelaskan secara keseluruhan tentang fenomena ini. Namun beberapa ahli psikologi mengasumsikan beberapa hal yang masuk akal tentang fenomena ini.

Pertama adalah karena pada saat perjalanan pergi otak kita cenderung lebih fokus terhadap rute dan objek asing yang kita jumpai selama perjalanan. Sehingga perhatian kita tertuju pada waktu. Konsep ini pernah dijelaskan oleh psikolog Richard A. Block dari Montana State University. Ketika pergi, kita menunggu dan berharap sesuatu yaitu kapan sampainya dan keinginan kita untuk tiba tepat waktu sehingga mungkin kita memerhatikan udah jam berapa, udah berapa lama kita di jalan, dan sebagainya.

Hal ini membuat lambat persepsi waktu di otak kita. Belum lagi kalau perginya buru-buru atau takut telat, pasti rasanya lama banget. Nah, saat pulang, jika melewati rute yang samapun, akan tetapi otak kita sudah lebih familiar terhadap rute dan objek yang dijumpai. Ini membuat otak tidak perlu lagi bekerja keras untuk fokus. Kita udah nggak begitu peduli dengan waktu sehingga terasa lebih cepat. Apalagi kalau pulangnya udah capek dan kamu tidur selama perjalanan pulang, eh tiba-tiba nyampe rumah. Gimana nggak berasa cepat tuh?

Kedua adalah konsep kesamaan (familiarity). Ketika pergi ke tempat tujuan yang asing atau jarang kamu datangi, kamu nggak begitu hapal atau bahkan nggak tahu rute yang ditempuh. Kamu pun lebih menikmati perjalanan dengan melihat-lihat pemandangan atau landmark selama menempuh perjalanan tersebut.

Nah, ketika pulang kamu udah nggak penasaran dan nggak excited lagi dengan pemandangan yang ada, karena bukan merupakan hal yang baru lagi bagi kamu. Hal inilah sebenarnya yang membuat perjalanan pulang terasa lebih cepat. Penerapan konsep ini juga terjadi pada kita yang udah tiap hari bolak-balik rute perjalanan pulang-pergi yang sama sehingga semuanya terasa begitu cepat.

Tidak selalu terjadi di Semua Tempat

Meskipun banyak orang yang mengalaminya, namun “Return Trip Effect” lebih sering terjadi ketika kita mengunjungi tempat-tempat baru yang belum pernah didatangi sebelumnya. Sedangkan untuk tempat-tempat yang sering atau setiap hari kita kunjungi, fenomena ini jarang sekali terjadi.

Ekspektasi Waktu

Manusia memang telah hidup dalam zaman kepastian waktu. Manusia tahu kalau dalam satu hari terdapat 24 jam, dalam satu jam terdapat 60 menit, dalam satu menit terdapat 60 detik. Itu pasti. Namun ihwal waktu, ada beberapa hal yang sering tak dipahami manusia. Terutama misteri tentang kenapa waktu perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada waktu berangkat.

Selain pikiran terhadap beragam obyek saat perjalanan, fenomena Return Trip Effect juga dapat muncul akibat tingginya harapan waktu kita pada momen berangkat. Kurmate mungkin sering mengalami buru-buru saat perjalanan berangkat dan mengecek jam tangan setiap kali. Ini terjadi karena kita takut terlambat untuk tiba di sebuah tempat yang dituju.

Atas peristiwa tersebut, kata para peneliti, kemudian lahirlah beban waktu. Berbeda halnya dengan proses pulang. Tidak ada beban takut terlambat, berkendara lebih santai pun tidak masalah dan itulah yang menyebabkan waktu pulang lebih cepat dari berangkat.

Atas perasaan yang selama ini banyak dirasakan oleh semua orang ketika saat berpergian jauh. Waktu pergi dan waktu pulang yang terasa berbeda. Bahkan sampai sekarang para ahli psikologi sebenarnya belum bisa menemukan penyebab pasti dari fenomena ini. Namun, bisa jadi fenomena ini dirasakan akibat gabungan dari dua konsep di atas ya. Kamu pernah merasakan kayak gini nggak, guys?