Ruby, Cokelat Varian Terbaru Tanpa Pewarna Buatan Yang Kembali Ditemukan Ilmuwan

Tunjuk tangan bagi kalian yang tidak menyukai cokelat? Sepertinya tidak ada yaa? Nggak heran deh kalau hampir rata-rata manusia di dunia ini sangat amat menyukai camilan manis manja itu. Rasanya yang manis dan nikmat mmebuatnya menjadi salah satu camilan favorit. Tahukah kalian kalau sebatang cokelat ternyata bisa membuat kalian yang menyantapnya akan menjadi bahagia. Alasanya ya karena cokelat mengandung phenethylamine. Zat tersebut mampu menghasilkan hormon endorfin dalam tubuh. Hormon endorfin adalah hormon yang bisa membuat seseorang merasa bahagia. Itulah sebabnya kenapa saat galau, cokelat menjadi obat paling ampuh.

Nah, ngomongin cokelat, ada kabar baik plus terbaru ini buat kalian para pencintanya. Sebuah perusahaan di Zurich, yakni Barry Callebaut, telah menghabiskan waktu 13 tahun untuk mengembangkan varian cokelat baru. Selama ini kita hanya mengenal ada 3 jenis cokelat: cokelat susu, cokelat hitam (kaya akan kakao) dan putih (tanpa kakao). Nah, sekarang muncul varian keempat, yaitu Ruby.

Ruby Cokelat, Perpaduan Rasa Kakao dan Beri

Ruby, cokelat pink yang merupakan salah satu inovasi pertama yang ditemukan setelah cokelat susu yang berwarna coklat sampai ratusan lalu dan cokelat putih dari Nestle 80 tahun lalu.

Perusahaan yang berhasil membuat cokelat pink adalah Cokelat Barry Callebaut. Barry Callebaut mengatakan jika produk ini sebentar lagi akan hadir di pasar Inggris. Begitupun dengan rasa dan warnanya terbuat secara alami, tidak menggunakan pewarna buatan ataupun ekstrak perasa.

Perusahaan ini telah mengembangkan cokelat pink sejak 13 tahun lalu, setelah berhasil menemukan jenis biji kakao di Amerika Selatan. Tetapi perusahaan ini baru menyadarinya selama 2 tahun lalu untuk memasarkan produk mereka.

Menurut Peter Boone, Cheif Innovation And Quality Officer untuk Barry Callebaut, produknya akan memenuhi hasrat hedonis para milenial. Untuk warna merah cokelatnya berasal dari bubuk yang disuling selama pemerosesan. Rasanya seperti perpaduan buah beri dan manis yang ringan. Rasa manisnya tidak seperti manisnya cokelat susu.

Adanya cokelat ini sangat tepat dengan trendnya pembuatan makanan yang penuh warna. Seperti halnya burger hitam, makanan berwarna ungu dari ubi buat, roti bagelen pelangi dan kitsch ROI panggang unicorn beraneka warna dan bahkan unicorn Frappuccino.

Menurut Sarah Philips salah satu pengelola akun Instagram, yang paling populer mengenai makanan bahwa cokelat pink akan populer sangat cepat, terlebih jika secara teknis mudah untuk disulap menjadi makanan lain. Kemudian ditambah semua orang menyukai smoothies berwarna cerah seperti halnya kue pelangi, yang menjadi trend besar yang semakin besar di tahun ini.

Ruby dijabarkan memiliki rasa khas kakao seperti cokelat pada umumnya, namun diperkaya dengan cita rasa buah beri. “Perpaduan antara rasa buah beri dan kelembutan yang nikmat.” Dan ini merupakan rasa alami yang dihasilkan Ruby tanpa campuran bahan apa pun. Menurut Barry Callebaut, Ruby akan menjadi produk kuliner yang mampu menarik perhatian kaum milenial. Sebab selain nikmat di lidah, cokelat ini juga indah dipandang. Pasti bisa menjadi objek foto yang Instagram-able.

Cokelat Pink Belum Bisa Dipasarkan

Diresmikan di Shanghai, China, cokelat Ruby ini terasa manis tapi sedikit asam. Barry Callebaut mengklaim telah mendapatkan respons yang bagus. Sayangnya, kita harus menunggu setidaknya enam bulan lagi sebelum bisa merasakan varian cokelat terbaru. Perusahaan Swiss tersebut mengumumkan bahwa akan dijual di suatu tempat di dunia dalam 6 sampai 18 bulan mendatang.

“Kami tidak menambahkan perasa, kami tidak menambahkan pewarna, atau zat aditif lainnya, itu murni keluar dari biji cokelat dan semuanya alami,” kata Peter Boone salah satu perwakilan dari Barry Callebaut, dilansir dari The Guardian. “Anda bisa membuat warna bahkan meniru rasa cokelat tersebut, tapi membuat warna dan rasa secara alami tanpa bahan tambahan, akan sangat sulit,” ujar Antoine de Saint-Affrique selaku CEO Barry Callebaut.

Ruby Chocolate diharapkan bisa diterima dan disukai masyarakat. Namun, kesuksesan jangka panjangnya jelas tergantung pada seberapa enak rasanya.

Kandungan Nutrisi Cokelat

Cokelat murni ataupun biji kakao memiliki sejumlah nutrisi yang dapat berguna bagi kesehatan tubuh, antara lain sangat kaya antioksidan dan flavonoid yang mampu menurunkan tekanan darah yang tinggi menjadi normal, dan juga bisa membantu mengurangi pembekuan darah. Dengan demikian biji kakao ataupun cokelat murni dapat menurunkan resiko serangan jantung dan stroke.

Menurut para ilmuwan dari Italia, mengemil 20 gram dark chocolate setiap 3 hari sekali membawa kebaikan untuk sistem kardiovaskuler. Namun jika makan terlalu berlebihan, tidak akan berpengaruh lebih baik. Dosis terbaik memang hanya secuil cokelat dengan berat 20 gram per 3 hari sekali.

Berikut ini kandungan nutrisi yang terdapat pada cokelat atau kakao :

  1. Gula. Biji kakao mengandung cukup banyak karbohidrat, tapi umumnya pati, serat tak larut dan larut, juga sangat sedikit gula sederhana. Biasanya gula ditambahkan ke dalam cokelat saat proses produksi di pabrik.
  2. Lemak. Biji kakao mengandung sekitar 50% lemak. Lemak kakao terdiri dari dua jenis asam lemak jenuh (palmitic acid dan stearic acid) dan satu asam lemak tak jenuh tunggal (oleic acid).
  3. Vitamin. Biji kakao memiliki kandungan vitamin yang cukup, yaitu vitamin A, B1, B2, B3, C, E dan asam pantotenat.
  4. Kafein. Biji kakao mengandung kafein dalam jumlah yang sangat rendah, jauh dibawah kafein yang ada pada kopi dan teh.
  5. Antioksidan. Kakao mengandung polifenol seperti yang ada pada minuman anggur. Antioksidan bermanfaat untuk mnejaga kesehatan tubuh.
  6. Mineral esensial. Kakao mengandung banyak mineral, termasuk magnesium, kalsium, zat besi, tembaga, potasoum, dan mangan.
  7. Kalori. Cokelat, khususnya dark chocolate memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi karena memiliki kadar tinggi gula dan lemak.
  8. Feniletilamin. Zat ini merupakan antidepresan yang ringan dan stimulan dengan kekuatan hampir sama dengan dopamin dan adrenalin yang diproduksi oleh tubuh.

Penggemar cokelat harus bersabar jika ingin mencicipi cokelat jenis keempat ini. Perusahaan tak menjual cokelat pada konsumen langsung, melainkan pada pabrik-pabrik. Mereka ingin mempersiapkan produk cokelat rubi pada konsumen dalam jumlah melimpah.