Sempat Terbuang Sia-Sia di Selokan Swiss, Begini Lika-Liku Perkembangan Emas

Seperti yang kita ketahui kalau saat ini di Jakarta saluran pembuangan airnya alias selokannya berbau busuk karena banyaknya sampah yang menyumbat, penyebabnya karena banyak dari mereka yang tidak menjaga kebersihan dan suka membuang sampah sembarangan. Nah, tapi beda halnya dengan selokan di Swiss karena di negara tersebut selokannya terdapat emas yang jika dikumpulkan maka dalam satu tahun jumlahnya bisa mencapai 40 kilogram bahkan lebih lho. Ya kali guys, selokan yang biasanya diisi dengan jutaan sampah, di Swiss justru dibuang-buang gitu aja.

Emas adalah unsur kimia dlm tabel periodik yang memiliki simbol Au dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, “malleable” dan “ductile”. Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tetapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius.

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5-3 (skala Mohs) serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals).

Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya 20%.

Lalu, bagaimana bisa emas yang dianggap sebagai barang berharga justru disia-siakan gitu aja di Swiss? Darimana sebenarnya emas itu berasal dan bagaimana perkembangnya sekarang? Untuk menjawab semua rasa penasaran dan pertanyaan itu, mari lihat ulasan informasi dan jawabannya di bawah ini.

Sejarah Emas

Emas dikenal antara lain di Mesopotamia dan Mesir. Referensi awal mula penemuan emas didasari dari legendaris atau mitos. Oleh karena itu beberapa penulis menyebutkan bahwa emas pertama kali ditemukan oleh Cadmus, bangsa Phoenicia. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa Thoas, raja Taurian lah yang pertama kali menemukan logam berharga dalam legenda Pangaeus Mountains di Thrace. Legenda dan mitos serupa tentang awal penemuan emas juga terdapat dalam sastra kuno dari Hindu (the Vedas) serta Cina dan bangsa lainnya.

Emas dari estetika properti fisik dikombinasikan dengan properti yang sudah lama menjadi logam berharga. Sepanjang sejarah, emas telah sering menjadi penyebab konflik, misalnya pada awal tahun 1500-an Raja Ferdinand dari Spanyol menetapkan prioritas kepada para conquistador, penakluk hambanya yang akan berangkat mencari Dunia Baru, “bawa pulanglah emas,” perintahnya kepada mereka, “kalau bisa dapatkan semanusiawi mungkin, tapi apapun risikonya bawalah emas.” Konflik karena perebutan emas juga terjadi pada awal ketika Amerika berburu emas ke Georgia, California dan Alaska.

Pada abad pertengahan, begitu kuat orang mendambakan emas sehingga lahir ilmu alkimia dengan tujuan membuat emas. Manusia modern berhasil mencapai cita-cita itu dengan mengekstrak emas dari air laut dan mengubah timbel atau merkurium menjadi emas dalam mempercepat partikel. Namun emas yang murah tetaplah emas alamiah yang harus ditambang.

Kelimpahan relatif emas di dalam kerak bumi diperkirakan sebesar 0,004 g/ton, termasuk sekitar 0,001 g/ton terdapat di dalam perairan laut. Menurut Greenwood dkk (1989), batuan bijih emas yang layak untuk dieksploitasi sebagai industri tambang emas, kandungan emasnya sekitar 25 g/ton (25 ppm). Emas di dunia mulai ditambang sejak tahun 2.000 sebelum masehi oleh bangsa-bangsa di dataran Mesir (bangsa Mesir, Sudan dan Arab Saudi). Pada sekitar abad ke-19, pencarian emas muncul kapanpun ketika ditemukan adanya deposit emas, termasuk di California, Colorado, Otago, Australia, Black Hills dan Klondike.

Sedangkan deposit emas terbesar ditemukan di Precambrian Witwatersrand, Afrika Selatan dengan luasan ratusan mil dan dengan kedalaman di lebih dari dua mil. Sejak tahun 1880-an, Afrika Selatan telah menjadi sumber untuk sebagian besar sediaan emas dunia.

Pada tahun 1970, produksinya mencapai hingga 70 % dari persediaan dunia, yaitu memproduksi sekitar 1000 ton, namun produksi di tahun 2004 hanya 342 ton. Penurunan ini berhubungan dengan bertambahnya kesulitan dalam ektraksi dan faktor ekonomi yang memperngaruhi industri Afrika Selatan. Produsen utama lainnya adalah Kanada, Australia, bekas Uni Soviet dan Amerika Serikat (Arizona, Colorado, California, Montana, Nevada, South Dakota dan Washington).

Sebelum Perang Dunia II, Indonesia merupakan penghasil emas terbesar di Asia Tenggara. Satu-satunya pengelola tambang emas di Indonesia pada awal tahun 1980-an adalah PT Aneka Tambang, sebuah BUMN di bawah Departemen Pertambangan dan Energi.

Berikut di bawah ini adalah tiga penambang emas besar di Indonesia menurut data tahun 1987:

  • PT Freeport Indonesia Inc yang berlokasi di Tembagapura, Papua dengan jumlah produksi 2,2 ton/tahun (1986).
  • PT Lusang Mining yang berlokasi di Bengkulu dengan jumlah produksi 300 kg/tahun (1986).
  • PT Aneka Tambang (Persero) berlokasi di Cikotok, Jawa Barat dengan jumlah produksi 240 kg/tahun (1986).

Selokan di Swiss Dipenuhi Emas

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perairan Pemerintah Swiss tahun 2016 lalu, para peneliti menemukan temuan unik. Temuan itu berupa sekitar 43 kg emas dan 3 ton perak terkandung dalam limbah pabrik yang mengalir di setiap selokan di negara itu. Jika dihitung, nilainya bisa mencapai $ 3,1 juta atau Rp 40 miliar.

Mendengar hal seperti itu, kalian pasti tergiurkan untuk pergi ke sana dan berharap mendapatkan emas-emas itu. Eitss, tapi tunggu dulu, karena semua itu tidak segampang yang kalian bayangkan. Hasil penelitian pemerintah setempat mengatakan bahwa emas dan perak tersebut berbentuk seperti partikel yang sangat kecil dan susah untuk didapatkan.

Emas dan perak berbentuk partikel kecil itu kemungkinan besar berasal dari industri pembuatan perhiasan seperti jam tangan yang menggunakan logam dalam produk dan prosesnya. Hal ini tidak mengherankan mengingat Swiss terkenal sebagai negara penghasil jam terbaik di dunia.

Meski nggak terbukti mencemari lingkungan, tapi pemerintah dan beberapa peneliti dari Swiss sampai dengan saat ini masih mencari cara untuk dapat memanfaatkan kembali emas dan perak yang terbuang tersebut agar nggak terbuang percuma. Adapun tingkat emas yang tertinggi ditemukan di Jura, wilayah barat Swiss, dimana daerah ini banyak pabrik pembuat jam yang menggunakan emas dan perak. Selain itu, konsentrasi logam mulia yang lebih tinggi di temukan di Ticino karena terdapat pertambangan emas di daerah tersebut. Kedua wilayah ini merupakan tempat yang cocok diambil air selokannya untuk diekstrak logam mulia yang terkandung di dalamnya.

Penemuan-penemuan ini membuktikan bahwa kita dapat menemukan kekayaan di tempat tak terduga di negara yang memang terkenal kekayaannya itu. Bulan lalu ada sebuah bank di Jenova beserta tiga restoran di sekitarnya ditutup karena ada sesuatu yang menyumbat toiletnya. Ternyata yang menyumbat toilet itu adalah segumpal uang kertas senilai $ 100 ribu atau sekitar Rp 1,3 miliar. Namun jangan khawatir bahwa air yang mereka minum itu mengandung logam mulia karena air itu telah melalui penyaringan sebelum disalurkan ke masyarakat untuk dikonsumsi.

Meski total uang yang ditemukan di saluran pembuangan jumlahnya sangat fantastis, baik pemerintah maupun industri yang bersangkutan nggak merasa rugi karena telah membuang begitu banyak logam mulia. Menurut mereka, mereka telah memanfaatkan logam mulia tersebut semaksimal mungkin dan mendapatkan banyak keuntungan.

Bungker Militer Jadi Penimbunan Emas

Bisnis jasa penyimpanan emas dalam bentuk batangan dan koin sekarang makin berkibar. Meskipun harga emas telah turun hingga 20 persen pada tahun ini investor tetap melihat bahwa emas merupakan aset yang paling aman dari portofolio investasi lainnya. Sementara itu, Swiss yang telah mendeklarasikan sebagai negara netral sejak 1815 dan tidak terlibat peperangan dengan negara manapun menjadikan fasilitas militernya menganggur. Salah satu fasilitas militer yang menganggur berada di wilayah pegunungan Alpin.

Fasilitas tersebut saat ini telah dikomersialkan untuk jasa penyimpanan emas dan barang berharga dengan pengelola Deltalis. Di tempat penyimpanan itu, investor bisa menyimpan emasnya dan karya seni bernilai tinggi dengan aman. Hingga saat ini, Swiss menjadi salah satu pusat perdagangan emas yang ditopang oleh perusahaan keuangan raksasa asal negara itu, Credit Suisse Group AG dan UBS AG.

“Swiss adalah negara netral. Negara ini menjadi tempat yang aman dan bebas dari campur tangan politik,” kata Allan Finn, Direktur Komoditas Global pada perusahaan logistik Malca Amit. Untuk memenangkan kompetisi yang semakin ketat dengan negara lain, Swiss menawarkan berbagai kemudahan yang menarik minat investor menyimpan hartanya di negara tersebut.

Perkembangan Produksi Emas di Indonesia

Saat ini, Indonesia memproduksi sekitar 4% dari produksi emas global, setengahnya berasal dari pertambangan raksasa Grasberg, tambang emas terbesar di dunia di wilayah barat Pulau Papua. Tambang tersebut diyakini memiliki cadangan emas terbesar di dunia (67,4 juta ons), dimiliki secara mayoritas oleh perusahaan Freeport-McMoRan Copper dan Gold Inc yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) dan menjadikan perusahaan ini pembayar pajak terbesar kepada Pemerintahan Indonesia. Akan tetapi banyak ketegangan yang mengelilingi aktivitas-aktivitas di pertambangan ini.

Serangkaian serangan kekerasan (termasuk pembunuhan, perampokan dan sabotase) telah terjadi sejak era Reformasi. Dua alasan dibalik situasi ini adalah perjuangan yang berkelanjutan untuk kemerdekaan Papua oleh Gerakan Papua Merdeka dan rasa ketidaksukaan dari masyarakat Papua (dan orang-orang Indonesia lainnya) terhadap sebuah perusahaan asing yang berhasil mendapatkan keuntungan yang tidak proposional dari sumberdaya alam negara ini.

Berlokasi di sebuah provinsi dengan salah satu tingkat kemiskinan relatif tertinggi di negara ini, membuat isu ini menjadi lebih sensitif. Masalah-masalah terkait yang telah disebutkan telah menganggu tingkat produksi secara sementara di masa lalu dan ganggungan tersebut kemungkinan akan terjadi lagi di masa mendatang karena alasan-alasan dibaliknya tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu pendek atau menengah.

Karena produksi emas di Indonesia sejauh ini melebihi permintaan emas domestik, maka kebanyakan hasil produksi dikirimkan keluar negeri. Kendati begitu, Pemerintah Indonesia saat ini menstimulasi pendirian industri-industri pengolahan nasional dalam rangka meningkatkan keuntungan dengan mengekspor produk-produk bernilai tambah sambil menghindari eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam negara yang terjadi saat ini.

‘Nasionalisme sumberdaya’ ini diresmikan melalui Undang-Undang (UU) Pertambangan 2009 yang memiliki dampak-dampak bagi para investor asing karena UU ini mencakup persyaratan percepatan divestasi (dalam waktu 10 tahun setelah tambang beroperasi secara komersil, perusahaan pertembangan harus secara mayoritas dimiliki pihak swasta atau publik Indonesia).

Amerika Punya Hutang 57 ribu Ton Emas Pada Indonesia

Sejak zaman penjajahan atau bahkan lebih jauh lagi, sudah tak terhitung banyaknya harta-harta nenek moyang yang diboyong keluar. Memang tidak ada bukti yang valid, namun percayalah jika kita dulunya sangat-sangat kaya. Salah satu harta yang kita miliki adalah 57 ribu ton emas yang konon dipinjam oleh Amerika kepada Indonesia.

Bayangkan saja 57 ribu ton emas kalau dibagi kepada semua orang Indonesia, berapa banyak yang bakal kita dapatkan? Mungkin lebih dari 10 kilo per orang atau kalau dikonversikan jumlahnya mungkin lebih dari jutaan triliun Rupiah. Sebenarnya kita berhak atas ini namun kenyataan yang ada malah jauh berbeda.

  • Green Hilton Memorial Agreement, Bukti Perjanjian Hutang Amerika Kepada Indonesia

Banyak sekali harta-harta kita yang terbang ke luar negeri. Akan sangat panjang untuk menelurusi kenapa dan bagaimananya. Namun yang jelas pada akhirnya harta-harta yang rata-rata berbentuk emas ini terkumpul sebagian dengan jumlah sekitar 57 ribu ton tadi.

Kemudian Amerika Serikat lewat Presiden mereka John F Kennedy, meminta belas kasih Presiden Soekarno untuk meminjam harta ini demi pembangunan Amerika. Presiden pertama kita itu menyetujuinya dan kemudian perjanjian ini dituangkan dalam Green Hilton Memorial Agreement yang dibuat pada tahun 1963. Hal ini jadi bukti valid kalau Amerika punya hutang besar kepada kita.

  • Isi Perjanjian Banyak Menuai Kontroversi

Pada perjanjian tersebut diketahui Soekarno memberikan emas-emas itu. Namun sebagai imbalannya presiden pertama ini meminta royalti sebesar 2,5 persen per tahun. Di samping itu, presiden Soekarno juga memberikan izin kepada Amerika untuk menambang di Indonesia. Asal emasnya sama sekali tidak boleh dibawa keluar.

Kennedy menyetujui hal ini bahkan ia menyanggupi jika perjanjian ini dilanggar, maka negaranya siap menerima sanksi berupa pengembalian paksa 57 ribu emas tadi. Perjanjian pun ditandatangani banyak orang dan saksi. Sayangnya implementasi janji ini pun mulai terlihat goyah dan tidak seperti apa yang seharusnya.

Meskipun sangat berat, kehilangan 57 ribu ton emas bukan hal yang terlalu buruk. Setidaknya Indonesia masih punya cadangan emas yang melimpah di Papua. Sayangnya, perjanjian penting itu tidak lagi valid. Dimulai dari era Soeharto, Freeport mulai mengais emas-emas di tambang Grassberg dan membawa semuanya. Mereka hanya membayar royalti yang sangat sedikit dibandingkan jumlah yang dibawa.

Hingga hari ini emas-emas Papua terus dikeruk dengan egois. Pemerintah yang sekarang mungkin akan berupaya untuk memperbaiki keadaan walaupun kesannya lambat. Atau mungkin jangan-jangan malah memberikan izin untuk eksplorasi emas yang lebih besar di wilayah Papua lainnya. Miris, ini sama sekali tak seperti rencana Bung Karno dan hasilnya memang benar-benar buruk bagi Indonesia.

Bayangkan saja jika semua harta ini tetap di Indonesia, entah emas warisan atau emas Freeport. Kita pasti jadi miliuner sekarang. Orang-orang yang tinggal di gerobak sampah atau kolong jembatan, mungkin sudah bolak-balik trip ke Eropa saking kayanya. Sayangnya, apa yang terjadi bukan seperti itu. Andai sejarah bisa dipelintir, mungkin semuanya bisa benar-benar berbeda sekarang.

  • Kematian Kennedy Berbuah Fatal Bagi Perjanjian Hilton

Tak lama setelah perjanjian tersebut dibuat atau tepatnya di tahun 1963, Kennedy pun tewas terbunuh dalam sebuah parade di tahun yang sama. Kematian ini pun berbuah fatal terhadap implementasi perjanjian penting itu. Kabar ini tentu saja mengagetkan Bung Karno. Pasalnya, skenario seperti ini tidak pernah terbayangkan olehnya.

Sudah jelas beliau segara menuntut semua harta ini dikembalikan, namun sayangnya hal tersebut tidak pernah terealisasi. Konon, emas-emas berharga itu dipindahkan ke suatu bank dan kemudian diklaim oleh pihak-pihak tertentu. Selang dua tahun dari kematian Kennedy atau tepatnya tahun 1965, terjadilah pergolakan besar di Indonesia yang dikenal dengan G30S.

Diduga ini juga merupakan skenario buatan untuk melengserkan Soekarno dari kepemimpinan. Dalangnya sendiri diduga adalah CIA. Setelah tragedi ini usai, posisi Soekarno terus turun dan akhirnya didepak oleh juniornya sendiri, yakni Soeharto. Masih teringat akan hutang-hutang Amerika, Soekarno terus berkeinginan menututnya. Namun fisiknya sudah lemah dan sakit-sakitan, apalagi posisinya sudah bukan orang berpengaruh lagi. Pada akhirnya, seiring dengan kematian sang presiden pertama, maka raib sudah harapan Indonesia untuk mendapatkan warisan yang tak karuan banyaknya itu.

Hal yang sama juga sempat terjadi pada bangsa China dan Filipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya.

Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akan tetapi apakah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai ribuan trilyun Dollar?

Sekianlah informasi mengenai serpihan emas yang terbuang sia-sia di selokan Swiss serta informasi mengenai lika-liku perkembangan emas. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat untuk kita semua.