Ahok Kalah, Pengrajin Bunga Kebanjiran Pesanan

Ahok, siapa yang tak kenal Gubernur anti mainstream ini, yang kalau berbicara ceplas ceplos bahkan sering menggunakan nada tinggi. Gubernur dengan nama lengkap Basuki Tjahja Purnama atau sering dipanggil Ahok ini lahir pada rabu 29 Juni 1966 di Bangka Belitung.

Ahok adalah salah satu calon Wakil Gubernur DKI pada Pilkada DKI Jakarta 2017, namun dirinya kalah dengan pasangan Anies dan Sandiago Uno. Ahok telah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2010 dan menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. Mari kita lihat sepak terjang Ahok sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta bersama Jokowi.

Kiprah Politik Ahok

Sebagai pengusaha di tahun 1995, ia mengalami sendiri pahitnya berhadapan dengan politik dan birokrasi yang korup.
Pabriknya ditutup karena ia melawan kesewenang-wenangan pejabat. Sempat terpikir olehnya untuk hijrah dari
Indonesia ke luar negeri, tetapi keinginan itu ditolak oleh sang ayah yang mengatakan bahwa satu hari rakyat akan
memilih Ahok untuk memperjuangkan nasib mereka.

Pertama-tama ia bergabung dibawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang saat itu dipimpin oleh Dr.
Sjahrir. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Dengan keuangan yang sangat terbatas dan
model kampanye lain dari yang lain, yaitu menolak memberikan uang kepada rakyat, ia terpilih menjadi anggota
DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Selama di DPRD ia berhasil menunjukan integritasnya dengan menolak ikut dalam praktik KKN, menolak mengambil uang SPPD fiktif dan menjadi dikenal masyarakat karena ia satu-satunya anggota DPRD yang berani secara langsung dan sering bertemu dengan masyarakat untuk mendengar keluhan mereka sementara anggota DPRD lain lebih sering “mangkir”.

Setelah 7 bulan menjadi DPRD, muncul banyak dukungan dari rakyat yang mendorong Ahok menjadi bupati. Maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005, Ahok mempertahankan cara kampanyenya yaitu dengan mengajar dan melayani langsung rakyat dengan memberikan nomor telfon genggamnya yang juga adalah nomor yang dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarganya.

Dengan cara ini ia mampu mengerti dan merasakan langsung situasi dan kebutuhan rakyat. Dengan cara kampanye yang tidak “tradisional” ini, yaitu tanpa politik uang, ia secara mengejutkan berhasil mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Padahal Belitung Timur dikenal sebagai daerah basis Masyumi, yang juga adalah kampung dari Yusril Ihza Mahendra.

Bermodalkan pengalamannya sebagai pengusaha dan juga anggota DPRD yang mengerti betul sistem keuangan dan budaya birokrasi yang ada, dalam waktu singkat sebagai Bupati ia mampu melaksanakan pelayanan kesehatan gratis, sekolah gratis sampai tingkat SMA, pengaspalan jalan sampai ke pelosok-pelosok daerah dan perbaikan pelayanan publik lainya. Prinsipnya sederhana: jika kepala lurus, bawahan tidak berani tidak lurus. Selama menjadi bupati ia dikenal sebagai sosok yang anti sogokan baik di kalangan lawan politik, pengusaha maupun rakyat kecil. Ia memotong semua biaya pembangunan yang melibatkan kontraktor sampai 20 persen. Dengan demikian ia memiliki banyak kelebihan anggaran untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Kesuksesan ini terdengar ke seluruh Bangka Belitung dan mulailah muncul suara-suara untuk mendorong Ahok maju sebagai Gubernur di tahun 2007. Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih Ahok. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, ia gagal menjadi Gubernur Babel.

Beberapa bulan belakangan ini banyak berita tentang kasus yang menimpa gubernur kontroversional yaitu Basuki Tjahja Purnama alias Ahok ini. Saat ini beliau sedang terlilit kasus penodaan agama yang ia lakukan. Banyak orang yang pro dan kontra terhadap kasus yang telah ia hadapi saat ini.

Gubernur yang terkenal tegas dan disiplin ini sangat kotroversional dengan segala tindakan nya yang tak jarang menuai pro dan kontra, contohnya saja saat penertiban kali jodoh yang ia lakukan. Namun di balik sikapnya yang agak frontal masih banyak juga yang menyukai dan mendukung beliau.

Bahkan sampai pada saat ia tersandung kasus penistaan agama, tak henti-hentinya dukungan datang menghampiri dirinya. Namun tak sedikit juga orang yang ingin menghukum dirinya atas perbuatan yang entah di sengaja atau tidak tersebut.
Sampai pada akhir sidang putusan dirinya yang dinyatakan telah bersalah atas penistaan agama yang telah ia lakukan. Semua para pendukungnya tetap setia memberi dukungan untuk dirinya.

Namun, saat ini Basuki Tjahja Purnama atau Ahok ini sudah menjadi Gubernur nonaktif DKI Jakarta dan dukungan tak henti-hentinya yang diberikan oleh pendukung setianya. Mereka mengirimkan karangan bunga untuk Gubernur nonaktif DKI Jakarta tersebut.

Fenomena Karangan Bunga

Ini merupakan fenoma yang sangat menyita perhatian masyarakat belakangan ini. Bagaimana tidak, ada banyak jumlah karangan bunga yang sempat berjejer di Balai kota DKI Jakarta, namun tak hanya di balai kota saja yang dipenuhi oleh karangan bunga untuk Ahok, ada juga beberapa titik yaitu Rutan Cipinang dan Mako Brimob Kelapa II Depok.

Tak henti-hentinya berdatangan karangan bunga yang berisi suport untuk dirinya dari para pendukung setianya. Ada ratusan karangan bunga untuk dirinya, jelas saja hal ini menjadi fenomena yang sangat menguntungkan bagi para penjual dan pengrajin bunga. Mereka jadi kebanjiran pesanan papan bunga dan lantas berapakah keuntungan yang mereka dapatkan dari fenomena langkah ini? hemmm….

Seperti penuturan dari salah satu pengrajin bunga ini yang bernama Ronald (30) asal Rawa Belong Jakarta menjelaskan, ia dapat menerima pesanan karangan bunga satu sampai dua minggu lalu karangan bunga tersebut diminta untuk dikirimkan ke Balai kota Jakarta.

Untuk karangan bunga Ahok saja bapak ini bisa menerima pesanan 15 sampai 20 papan bunga perharinya. Dengan begitu jika digabungkan dengan pesanan biasa untuk pernikahan, kematian dan peresmian sehari bisa membuat 30 karangan bunga.

Ibarat nya musibah yang menimpah bapak Ahok malah mendatang kan rezeki bagi pengrajin bunga.