Yuk Ketahui Fakta di Balik Pavel Durov, Si Tampan Pencipta Telegram

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa baru-baru ini Indonesia sedang diramaikan dengan pemberitaan atas keputusan Kemkominfo yang ingin memblokir layanan pesan instan Telegram. Mungkin pemblokiran sosial media tak hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan ada Negara Yang Melarang Keras Penggunaan Media Sosial. Jadi bisa dibilang jika Indonesia hanyalah segelintir kecilnya doang kok!

Bicara soal Telegram yang akan diblokir di Indonesia, ternyata ada beberapa fakta tentang CEO Telegram yang belum banyak diketahui orang lho guys, nah kira kira apa saja ya? Dari pada penasaran yuk kita simak sama-sama:

Lahir di Rusia

Pavel Durov yang dikenal sebagai CEO Telegram ini ternyata lahir di Leningrad, RSFS Rusia, Uni Soviet kini Saint Peterburg, Rusia pada 10 Oktober 1984. Meski lahir di negara beruang merah, tapi ia lebih sering menghabiskan masa kecilnya di Torino, Italia, karena ayahnya, Valery Durov, yang bergelar Ph.D. dalam bidang filologi, bekerja di sana.

Sepulangnya dari Torino, kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Rusia sebagai mahasiswa filologi di Universitas St. Petersburg pada tahun 2001 dan ia lulus di tahun 2006.

Mendirikan Media Sosial VKontakte

Jauh sebelum mendirikan Telegram, ia terlebih dahulu mendirikan media sosial VKontakte. Pavel mendirikan VKontakte bersama dengan kakaknya yang bernama Nikolai Durov. Pada mulanya ia membuat VK terpaut oleh Facebook, namun siapa sangka jika VK justru lebih terkenal di Rusia dari pada Facebook.

Tentu hal ini membuat VK dalam puncak kejayaan, pundi-pundi uang yang ia dapatkanpun justru semakin naik pesat. Bahkan diperkirakan kekayaan yang dimilikinya mencapai US$ 260 juta. Namun di saat perusahaan yang ia dirikan berada di puncak kejayaan, Pavel malah memilih untuk mengundurkan diri dari VK.

Diasingkan dari Negara Kelahirannya Sendiri

Pemerintah Rusia yang meminta Pavel untuk menyerahkan data pengguna Vkontakte Ukraina pada 2014. Namun ia enggan untuk memberikan data-data para pengunjuk rasa di Ukraina kepada agen intelijen Rusia. Para demonstran itu diketahui memiliki laman di situs VK.

Bahkan, ketika dia diminta secara tegas oleh Pemerintah Rusia untuk menutup laman milik Alexei Navalnya, orang yang menentang pemerintahan Putin, Pavel tetap menolaknya. Alih-alih menutup laman tersebut, Pavel justru mengunggah surat yang dikirim pemerintah untuk menutup laman Alexei. Menurutnya, perintah itu tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Dianggap sebagai pembangkang, Pemerintah Rusia pernah mencoba untuk mengintimidasi dengan mengirimkan tim intelijen ke apartemennya. Bahkan, dia pernah coba dikriminalisasi. Otoritas setempat menuding Pavel pernah menabrak seorang personel polisi. Hal itu tentu dibantah oleh Pavel. Dia mengaku tidak mungkin menabrak personel polisi itu karena tidak bisa menyetir.

Ketika diminta untuk hadir dalam persidangan, Pavel justru memilih kabur keluar dari Rusia, kini Pavel meninggalkan Rusia dan memperoleh kewarganegaraan Saint Kitts dan Nevis, negara federasi dua pulau yang terletak di Kepulauan Leeward, Karibia.

Membentuk Telegram

Setelah pindah dari Rusia, Pavel memilih New York, Amerika Serikat sebagai negara tujuannya. Pada tahun 2014 mengembangkan proyek rahasianya yang sama sekali tidak ada orang yang mengetahuinya. Terlalu rahasianya bahkan sampai-sampai ketika salah satu media di Rusia bertanya mengenai proyek apa yang sedang ia kerjakan kala itu, Pavel hanya mengirimkan sebuah GIF yang diambil dari film ‘The Social Network’.

Dalam GIF tersebut, terlihat Presiden Facebook, Sean Parker memberikan jari tengah kepada investor. Proyek rahasia itu ternyata Telegram, sebuah aplikasi messenger yang dibuat sedemikian rupa, sehingga sulit untuk disadap oleh pemerintah atau badan intelegen lainnya.

Ia Membenci Aplikasi WhatsApp

Bukan karena WhatsApp adalah pesaing terberat bagi Telegram, Pavel menyatakan bahwa WhatsApp memiliki kualitas buruk dan tidak dapat diandalkan. Bahkan tidak menjamin privasi penggunanya. Sudah menjadi rahasia umum, jika pemerintah satu negara bisa mengintip pembicaraan yang sedang dilakukan para penggunanya di aplikasi tersebut. Bahkan, jika diminta, mereka bisa memberikan data-data tersebut.

Menyukai Pakaian Berwarna Hitam

Memiliki wajah tampan, membuat pria satu ini bebas mengenakan pakaian apapun dan akan selalu terlihat tampan. Pavel sering mengunggah fotonya di Instagram dan terlihat bahwa Pavel sering menggunakan pakaian hitam. Gaya berpakaiannya ini mengingatkan para netizen dengan karakter ‘Neo’ di film The Matrix. Kesan ini memberikan persepsi bahwa dia pria yang misterius.

Gaya Pavel memang tidak seperti kebanyakan pria pada umumnya. Kendati populer, tetapi dia jarang bersedia untuk diwawancarai media.

Sempat Libur ke Indonesia

Indonesia kini menjadi salah satu negara yang akan memblokir Telegram, akan tetapi ternyata Pavel pernah datang ke negara yang akan memblokir aplikasi buatannya tersebut. Pada saat baru-baru pindah dari Rusia dan sebelum memperoleh kewarganegaraan Saint Kitts dan Nevis, dahulu Pavel menjalani hidupnya nomaden alias berpindah-pindah. Sehingga tak bisa dipungkiri banyak negara yang ia datangin dan salah satunya Raja Empat Indonesia.

Itulah fakta dari sosok tampan di balik Telegram yang akan di blokir oleh Indonesia.