Demi Cinta, Para Bangsawan Ini Rela Kehilangan Takhta

Mungkin kita biasanya hanya melihat di drama Korea atau di sinetron Indonesia saja yang biasanya orang kaya raya jatuh cinta dengan orang biasa dan rela melepaskan semua kekayaan demi orang yang mereka cinta. Namun ternyata hal-hal seperti itu tidak hanya ada di serial drama Korea atau di sinetron Indonesia saja, ternyata didunia nyata juga ada lho guys.

Biasanya keluarga di sebuah kerajaan dibentengin dengan segala seseuatu yang eksklusif, hal itulah yang membuat keluarga kerajaan tidak akan dijangkau oleh kalangan rakyat jelata. Dari sejak lahir seluruh anggota kerajaan sudah terikat dengan segala aturan dan bahkan ketika mereka sudah dewasa, deretan tugas kerajaanpun sudah menanti mereka.

Oleh sebab itulah setiap anggota keluarga kerajaan tidak boleh sembarangan menentukan sebuah pilihan dan termasuk juga dalam memilih pasangan hidup mereka. Sehingga hampir rata-rata mereka pasrah dengan adanya perjodohan, namun tak sedikit dari mereka yang menentang dengan adanya perjodohan. Bahkan mereka nekat untuk mengambil langkah yang mengejutkan.

Melawan arus berarti harus siap untuk menanggung resiko. Hal tersebut justru terjadi pada beberapa anggota keluarga kerajaan. Mereka memilih untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri, menentang perjodohan dan semua itu harus dibayar dengan melepas gelar kebangsawanan.

Berikut ini adalah sejumlah anggota keluarga kerajaan yang rela meletakkan mahkota demi menikahi orang dari kalangan biasa:

George VIII

Belum genap satu tahun dimahkotai, Edward VIII dari Ingris memutuskan untuk turun dari takhta tepat pada 10 Desember 1936 dan tentu saja hal tersebut membuat publik Inggris menjadi gempar. Ia membuat keputusannya ini demi seorang wanita yang ia cintai yaitu Wallis Warfield Simpson, perempuan yang berhasil merebut hatinya.

Dalam surat pengunduran dirinya ia menuliskan, “Saya, Edward VIII, Raja Inggris…dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan untuk meninggalkan takhta diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya.” Surat tersebut ditandatanganinya pada Kamis pagi 10 Desember 1936 di hadapan saudara-saudara juga pengacaranya. Saat itu ia bahkan belum secara resmi dinobatkan sebagai raja.

Dengan merespons hal tersebut, kelang satu hari, parlemen Inggris dan House of Lords( Dewan Kebangsaan) mengeluarkan sebuah persetujuan akhir kekuasaan seorang raja, ratu atau kaisar akibat meninggal dunia ataupun menyerahkan kekuasaan alias takhta. Keputusan yang cukup berat yang telah diambilnya (untuk turun tahta) mengakhiri sepekan penuh ketegangan.

Kuatnya cinta sang raja kepada Wallis Warfield Simpson, perempuan kelahiran Amerika Serikat yang dua kali bercerai dengan suami sebelumnya, adalah alasan mengapa ia turun takhta. Keputusannya meninggalkan takhta demi seorang wanita sangat mengejutkan karena semasa muda ia di kenal sebagai playboy.

Putri Mako

Kalau melihat seorang pria yang rela berkorban demi wanita pujaannya itu memang sudah biasa, namun lain halnya dengan yang terjadi pada wanita yang satu ini, Publik Jepang sangat dikejutkan dengan keputusan yang diberikan oleh Putri Mako (25) yang lebih memilih melepas gelar kebangsawanannya demi seorang pria biasa yang ia cintai.

Mako adalah anak sulung Pangeran Akishino, anak kedua Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko. Pria yang berhasil mencuri hati Mako adalah Kei Komuro (25). Ia bekerja di sebuah firma hukum dan tengah menempuh pendidikan pascasarjana. Kei cukup dikenal mengingat ia pernah tampil sebagai “Prince of the Sea” dalam sebuah iklan pariwisata pantai untuk mempromosikan Kota Fujisawa yang terletak di Selatan Tokyo.

Pertemuan pertama keduanya terjadi pada tahun 2012 di sebuah restoran. Saat itu mereka tengah menempuh pendidikan di universitas yang sama, International Christian University di Tokyo.

Kekaisaran di Jepang memiliki hukum, apabila seorang putri memilih untuk menikahi pria biasa, maka dirinya harus melepaskan gelar bangsawannya. Dan kabar bahagia dari Putri Mako ini disebut-sebut akan kembali menghidupkan perdebatan lama tentang suksesi kerajaan.

Rumah Tangga Kekaisaran mengatakan kepada media lokal, pertunangan cucu perempuan pertama Kaisar Akihito tengah dalam proses persiapan.”Pertunangan akan resmi setelah sebuah seremoni bertukar hadiah dilakukan,” sebut media setempat. Radio NHK memuat dalam laporannya, pernikahan Mako dan Kei akan berlangsung tahun depan.

Ketika kabar pertunangan ini meluas, pada Rabu waktu Tokyo, para awak media berkumpul di depan firma hukum di mana calon suami Putri Mako bekerja. Disinggung terkait rencana peresmian hubungannya dengan putri Jepang tersebut, Kei tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan, “Sekarang bukan saatnya untuk berkomentar, tapi saya akan bicara pada saat yang tepat.”

Ternyata, peristiwa putri menikahi pria biasa tidak asing dalam sejarah kekaisaran Jepang terlebih pada era modern. Sebelum Mako, kisah serupa lebih dulu dijalani Putri Sayako. Sayako merupakan putri satu-satunya Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko. Ia merupakan anak ketiga setelah Pangeran Naruhito dan Pangeran Akishino.

Namun tak hanya Mako saja yang nekat menikahi pria biasa. Pada tahun 2005, Sayako pun juga memutuskan menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang perencana tata kota untuk pemerintah kota Tokyo. Pernikahan keduanya berlangsung sederhana.
Pasca disunting orang biasa, Sayako harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang serba jauh lebih sederhana. Dari istana ia pindah ke apartemen dengan satu kamar tidur.

Keadaan mengharuskannya belajar menyetir, berbelanja di supermarket, hingga membeli perabotan sendiri. Jika ditarik jauh ke belakang, sejumlah putri Jepang juga menempuh langkah yang sama dengan Sayako dan Mako.

Banyaknya kasus pernikahan anggota keluarga kekasisaran Jepang yang menikahi rakyat jelata menjadikan persoalan tersendiri bagi negara sakura tersebut, pasalnya peristiwa tersebut mengakibatkan menyusutnya jumlah angota keluarga kekaisaran.

Terhitung saat ini kekaisaran Jepang memiliki 19 anggota keluarga dan 14 di antaranya adalah wanita. Kekaisaran di Jepang hanya memungkinkan takhta diwarisi kepada anak laki-laki, tapi sementara itu hanya ada tiga putra yang tersisa. Pertama adalah Putra Mahkota Pangeran Naruhito, adik laki-lakinya Akishino dan seorang lagi putra Akishino, Pangeran Hisahito.

Selain Putri Mako, ada enam putri lain yang saat ini belum menikah. Mereka juga akan kehilangan gelar kebangsawanan jika memilih menikahi orang biasa. Hal tersebutlah yang menjadikan kekhawatiran keluarga kekaisaran yang Kemungkinan tidak memiliki cukup anggota untuk terus menjalankan tugas-tugas publik.

Nah, dari cerita yang ada diatas telah membuktikan bahwa kekuasaan dan kekayaan akan dikalahkan dengan yang namanya cinta. Eitts yang harus kalian tau ini bukan dongeng atau drama Korea ya guys, ini real kisah nyata di Jepang dan Inggris.